Kubu Raya post author Kiwi 04 Agustus 2026

Lebih dari Sebuah Piagam: Penghargaan Basarnas dan Terima Kasih Keluarga Korban PK-CFX kepada Lanud Supadio

Photo of Lebih dari Sebuah Piagam: Penghargaan Basarnas dan Terima Kasih Keluarga Korban PK-CFX kepada Lanud Supadio Prajurit Lanud Supadio saat mengevakuasi korban kecelakaan helikopter PK-CFX di Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalbar, beberapa waktu lalu. / suara pemred/aep mulyanto

KUBU RAYA, SP - Piagam itu mungkin hanya selembar kertas. Namun bagi keluarga korban kecelakaan helikopter PK-CFX di Kabupaten Sekadau, nilainya jauh melampaui tinta dan bingkai yang membalutnya.

Di balik penghargaan yang diterima Lanud Supadio, tersimpan jejak langkah para prajurit yang menembus lebatnya hutan Kalimantan, deru baling-baling Helikopter Super Puma yang membawa pulang harapan, serta penghormatan terakhir yang mengantarkan delapan korban kembali ke pangkuan keluarga dengan penuh martabat.

Bagi mereka yang berdiri di Apron Lanud Supadio pada 17 April 2026, menyaksikan satu per satu peti jenazah diturunkan dalam suasana hening, operasi tersebut bukan sekadar proses evakuasi.

Itu adalah perjalanan kemanusiaan yang menghadirkan negara di tengah duka, memastikan para korban dipulangkan dengan layak dan penuh penghormatan.

Penghargaan yang kemudian diberikan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) kepada Pangkalan TNI AU (Lanud) Supadio menjadi simbol atas kerja keras tersebut.

Bukan hanya pengakuan atas keberhasilan sebuah operasi pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR), tetapi juga bentuk penghormatan terhadap dedikasi seluruh personel yang terlibat.

Saat menyerahkan Piagam Penghargaan dari Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, S.I.P., M.M., CHRMP., kepada Komandan Lanud (Danlanud) Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Sidik Setiyono, S.E., M.Han., dalam rangkaian Hari Bakti ke-80 TNI Angkatan Udara di Apron Lanud Supadio, Kepala Kantor SAR Pontianak I Made Junetra menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas sinergi yang terbangun selama operasi kemanusiaan berlangsung.

"Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi dan rasa terima kasih kami kepada Lanud Supadio dan Batalyon Komando 466 Kopasgat atas dukungan penuh selama pelaksanaan Operasi SAR kecelakaan Helikopter PK-CFX di Kabupaten Sekadau. Sinergi yang terjalin menjadi kekuatan utama dalam setiap misi kemanusiaan," ujar I Made Junetra.

Bagi keluarga korban, penghargaan tersebut seolah mewakili rasa terima kasih yang tidak mudah diungkapkan. Mereka mengapresiasi kecepatan respons, profesionalisme personel, serta penghormatan yang diberikan kepada delapan korban sejak proses pencarian, evakuasi, hingga penyerahan kepada keluarga.

Duka memang tidak dapat dihapus. Namun cara para prajurit memperlakukan para korban dengan penuh kehormatan menghadirkan ketenangan tersendiri bagi keluarga yang harus menghadapi kehilangan.

Selain piagam penghargaan kepada Danlanud Supadio, Marsma TNI Sidik Setiyono, Kepala Basarnas juga memberikan penghargaan serupa kepada Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Supadio, Kolonel Pnb D. Leonard Dumatubun dan Komandan Batalyon Komando (danyon Parako) 466 Kopasgat, Letkol Pas Adim Dwi Prasanda.

I Made Junetra menjelaskan bahwa penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghakuan atas dukungan personel, kemampuan operasional, dan sinergi yang diberikan selama operasi berlangsung.

"Keberhasilan operasi pencarian dan pertolongan tidak hanya bergantung pada kemampuan Basarnas, tetapi juga ditentukan oleh solidnya kerja sama seluruh unsur potensi SAR yang terlibat di lapangan," katanya.

Ia berharap kerja sama antara Basarnas, TNI AU, dan seluruh unsur potensi SAR terus diperkuat sehingga setiap operasi kemanusiaan dapat berjalan lebih cepat, efektif, dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Bagi Marsma TNI Sidik Setiyono, penghargaan dari Basarnas bukanlah tujuan akhir. Ia menjelaskan, penghargaan ini merupakan hasil kerja sama dan dedikasi seluruh personel serta sinergi yang baik antara TNI AU, Basarnas, pemerintah daerah, dan seluruh unsur terkait.

“Dukungan terhadap operasi SAR merupakan bagian dari pengabdian TNI Angkatan Udara kepada masyarakat dan negara," katanya.

Piagam itu memang diterima oleh Lanud Supadio. Namun maknanya jauh lebih besar dari sebuah penghargaan.

Di baliknya terdapat kerja keras para penerbang yang menembus keterbatasan cuaca dan medan, prajurit yang menyusuri belantara Sekadau, serta seluruh personel SAR yang bekerja dengan satu tujuan, menghadirkan pertolongan dan penghormatan bagi mereka yang membutuhkan.

Bagi keluarga korban, penghargaan itu menjadi pengingat bahwa orang-orang tercinta mereka telah diantar pulang dengan cara terbaik.

Sebab dalam setiap misi kemanusiaan, keberhasilan bukan hanya tentang menemukan dan mengevakuasi korban. Keberhasilan juga tentang menghadirkan rasa hormat, kepedulian, dan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Dan itulah makna sesungguhnya dari pengabdian Lanud Supadio. Lebih dari sebuah piagam.

Berpacu dengan Waktu di Belantara Sekadau

Kisah itu bermula pada Kamis pagi, 16 April 2026. Helikopter sipil Airbus H130 registrasi PK-CFX milik PT Matthew Air Nusantara dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Melawi menuju Kubu Raya.

Kontak terakhir diketahui terjadi di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, kawasan dengan medan perbukitan, hutan lebat, dan akses yang sulit dijangkau.

Informasi tersebut diterima Kantor SAR Pontianak dari AirNav. Tanpa menunggu waktu lama, koordinasi lintas instansi dilakukan untuk mempercepat proses pencarian.

Lanud Supadio menjadi salah satu unsur utama yang bergerak.

Helikopter NAS-332 Super Puma dari Skadron Udara 6 diterbangkan untuk memperkuat pencarian melalui jalur udara.

Kemampuan udara tersebut menjadi sangat penting mengingat lokasi kejadian berada di kawasan yang memiliki tantangan geografis tinggi.

Di sisi lain, prajurit Batalyon Para Komando (Yon Parako) 466 Kopasgat Brajamusti bersama tim SAR gabungan bergerak melalui jalur darat, menyusuri kawasan hutan dan medan terjal demi menemukan titik keberadaan helikopter.

Lanud Supadio tidak hanya mengerahkan alutsista dan personel, tetapi juga menjadi pusat koordinasi operasi serta titik utama evakuasi udara seluruh korban.

Danlanud Supadio, Marsma TNI Sidik Setiyono menegaskan bahwa seluruh kemampuan satuan dikerahkan untuk mendukung misi kemanusiaan tersebut.

"Kami tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga mengemban amanah kemanusiaan. Duka ini adalah duka kita bersama. Lanud Supadio akan selalu hadir untuk memastikan setiap proses evakuasi berlangsung dengan aman, lancar, dan penuh penghormatan kepada para korban," katanya.

Mengantar Pulang dengan Penuh Kehormatan

Puncak operasi berlangsung pada Jumat, 17 April 2026. Setelah proses pencarian dan evakuasi di lokasi kejadian, seluruh korban diterbangkan menggunakan Helikopter Super Puma TNI AU dari titik transit di Kompi Yonif 642/Kapuas, Sanggau menuju Lanud Supadio.

Saat helikopter mendarat di Apron Lanud Supadio, suasana berubah menjadi hening. Satu per satu peti jenazah diturunkan oleh personel TNI AU, Kopasgat, dan tim SAR gabungan dengan penuh penghormatan.

Tidak ada langkah yang tergesa-gesa. Setiap tahapan dilakukan dengan disiplin, kehati-hatian, dan rasa hormat sebagai penghormatan terakhir kepada para korban.

Setelah proses tersebut, kedelapan jenazah diserahkan secara resmi kepada tim SAR dan pihak keluarga sebelum dibawa menuju Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalimantan Barat (Kalbar) untuk proses identifikasi dan penanganan selanjutnya.

Bagi keluarga korban, momen itu menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Di tengah kesedihan, mereka menyaksikan bahwa orang-orang yang mereka cintai diperlakukan dengan penuh martabat hingga akhir perjalanan pulang.

Apresiasi keluarga juga diberikan kepada seluruh unsur yang terlibat, termasuk Yon Parako 466 Kopasgat dan tim SAR gabungan yang bekerja tanpa mengenal lelah menghadapi medan hutan terjal di Nanga Taman, Sekadau.

Sinergi yang Menjadi Kekuatan Utama

Operasi SAR PK-CFX menjadi bukti bahwa keberhasilan sebuah misi kemanusiaan tidak pernah berdiri sendiri.

Basarnas, TNI AU, Kopasgat, TNI, Polri, pemerintah daerah, tenaga medis, dan masyarakat bergerak dalam satu tujuan yang sama, yakni menemukan dan mengevakuasi seluruh korban.

Marsma TNI Sidik Setiyono menyebut semangat kebersamaan menjadi faktor utama keberhasilan operasi.

"Di tengah keterbatasan dan tantangan medan, semangat kebersamaan menjadi kunci. Kami mengapresiasi dedikasi seluruh personel yang telah bekerja tanpa kenal lelah demi misi kemanusiaan ini," tuturnya.

Selain pengerahan Helikopter Super Puma dan personel Kopasgat, Lanud Supadio memberikan dukungan fasilitas pangkalan, koordinasi operasi, hingga menjadi lokasi penerimaan korban sebelum diserahkan kepada keluarga.

Wujud Nyata Operasi Militer Selain Perang

Operasi SAR PK-CFX menjadi salah satu gambaran nyata pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) oleh TNI Angkatan Udara.

Sejalan dengan arah kebijakan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal TNI M. Tonny Harjono, TNI AU terus memperkuat peran dalam mendukung kebijakan nasional melalui mobilitas udara, penanggulangan bencana, operasi pencarian dan pertolongan, serta pengabdian sosial kepada masyarakat.

Pelaksanaan OMSP tersebut diwujudkan melalui kesiapan alutsista, profesionalisme sumber daya manusia, kemampuan organisasi yang adaptif, serta kesiapsiagaan satuan dalam menghadapi berbagai kondisi darurat.

Operasi SAR PK-CFX menunjukkan bagaimana kemampuan tersebut hadir secara nyata. Helikopter Super Puma diterbangkan menuju wilayah sulit dijangkau, prajurit Kopasgat bergerak di medan berat, dan Lanud Supadio menjadi pusat koordinasi hingga seluruh korban berhasil dievakuasi. (aep mulyanto)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda